Oleh Agung Marsudi
Karena hidup perlu banyak rasa
HARI RAYA pertama di warung girli maksud hati menikmati lotek, gado-gado, es jeli, es jaipong. Eh, yang ada cuma "Magelangan".
Hari raya kedua di Resto Risti, tertulis di buku menu ada nasi uduk sambal kacang, nasi uduk sambal goreng, lontong sayur, lontong opor telur, lontong opor ayam, soto daging, soto ayam. Ujung-ujungnya juga "Magelangan".
Alasannya sederhana masih hari raya.
Dua hari saya menikmati "Magelangan". Karena nasi dicampur mie yang kesohor itu terasa agak seret, saya selalu pesan 2 gelas es teh sekaligus. Biar seger.
Setiap menunggu pesanan, dua hari ini saya membuka ulang antologi kedua pemikiran Sudirman Said, dalam buku berjudul "Bergerak dengan Kewajaran" terbitan Lamalera.
Saya terkesima dengan _endorsement_ Erry Riyana Hardjapamekas, Komisioner KPK 2003-2007, kolega Sudiman Said, ia menulis, "Sudirman sedang mengingatkan kita agar bukan saja harus terus bergerak, namun juga teruslah menjaga gerakan itu dengan norma dan etika. Kita pun disadarkan bahwa, menjadi bermartabat itu bukan perkara sulit sepanjang kita mampu menjaga kewajaran."
Dua kata, "bergerak" dan "kewajaran" itu kemudian menjadi judul buku ini.
Menarik lagi ketika membaca, bab 11 tentang cita-cita Luhur Bernama Indonesia, di halaman 60, ada kutipan pertanyaan menarik, "Masihkah kata "Indonesia" dihuni oleh cita-cita luhur bangsa?"
Lalu menjadi beda, menjadi istimewa, karena pada hari terakhir perjalanan saya, "Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia" berhenti di lapangan Bhirawa Yudha, Grup 2 Kopassus/ Sandi Yudha, Kartasura, mengikuti sholat Idul Fitri. Kenangan lama muncul kembali. Pulang ke markas komando"Naga Terbang".
Pesan moral, dalam buku Sudirman Said setebal 436 halaman itu adalah ajakan, "Mencintai Indonesia untuk Selamanya".
Jadi ingat, ajakan Prabowo membawa kabinetnya ke Magelang, para kepala daerah ke Magelang. Karena hidup perlu banyak rasa. Magelang itu rasa Indonesia. Dan Indonesia adalah kita.
Hari Raya, "Magelangan" punya cerita.
Magelang, 1 April 2025